Panduan membeli
Forbes: Indonesia Masuk 5 Besar Negara Tujuan Investasi Properti
Jérémie Lictevoet · 11 Agustus 2026
Pasar Real Estate Indonesia di 2025: Antara Mega Proyek dan Minat Global Oleh Olivia Rumi | Kontributor Forbes 1 Juli 2025 Seiring Indonesia memasuki babak ekonomi baru dengan relokasi ibu kotanya ke Nusantara, sektor real estate negeri ini tengah menyaksikan salah satu periode paling dinamis dalam sejarah terkininya. Dari pengembangan properti mewah di Bali hingga mega proyek terencana di Kalimantan, investor domestik maupun internasional tengah melirik peluang-peluang di seluruh penjuru nusantara. Fundamental yang Kuat di Tengah Transisi Politik Meskipun mengalami transisi politik besar pada awal 2024, sentimen investor di sektor properti Indonesia tetap optimistis sepanjang semester pertama 2025. Menurut Indonesian Real Estate Investment Forum (IREIF), investasi real estate melonjak 11,7% YoY pada Q1 2025 — dengan lebih dari 40% dana diarahkan ke pengembangan residensial dan 35% lainnya ke infrastruktur komersial di sekitar Nusantara. "Indonesia sedang mengalami pergeseran pembangunan perkotaan yang terjadi sekali dalam satu generasi," ujar Andreas Liem, CEO PT Artha Capital. "Minat terhadap proyek mixed-use berkualitas tinggi tumbuh secara eksponensial, terutama di kota-kota tingkat dua dan koridor ekonomi baru." Nusantara: Katalis bagi Mega-Urbanisasi Relokasi ibu kota Indonesia dari Jakarta ke Nusantara, Kalimantan Timur, senilai $34 miliar, telah menjadi pendorong tunggal terbesar aktivitas konstruksi di negeri ini. Pengembang seperti Ciputra Group, Pakuwon Jati, dan Sinar Mas Land telah mengamankan cadangan lahan strategis di dalam zona ibu kota baru. Proyek-proyek utama di Nusantara meliputi: • Proyek smart city seluas 300 hektare yang dipimpin oleh Ciputra Development • Kluster residensial mewah oleh BSD City (Bumi Serpong Damai) • Proyek infrastruktur hijau yang didukung pemerintah, dengan target pencapaian emisi karbon nol pada 2045 Bali dan Kebangkitan Investasi Butik Sementara pemain institusional berfokus pada Kalimantan dan pinggiran perkotaan Jakarta, investor perorangan beralih ke Bali — khususnya di Canggu, Uluwatu, serta kawasan Padonan dan Tabanan yang belum terlalu jenuh. Menurut Seven Stones Indonesia, harga real estate residensial di Bali tumbuh 16% YoY per Juni 2025, melampaui bahkan pasar kondominium kelas atas Jakarta. Diperkenalkannya struktur kepemilikan properti yang lebih sederhana bagi warga negara asing dan meningkatnya tren kerja jarak jauh terus mendorong permintaan ini. "Bali telah bertransformasi dari pasar liburan menjadi destinasi gaya hidup dan investasi modal," kata Michelle Tan, direktur regional Colliers Southeast Asia. "Kami menyaksikan para wirausahawan digital dan dana investasi menengah masuk dengan kecepatan yang belum pernah kami lihat sebelumnya." Reformasi Kepemilikan Asing Mendorong Pertumbuhan Pada akhir 2024, pemerintah Indonesia menerapkan sejumlah reformasi untuk menarik lebih banyak investasi asing langsung (FDI) di sektor real estate. Reformasi tersebut meliputi: • Perpanjangan leasehold selama 30 tahun dengan klausul pembaruan otomatis • Penyederhanaan IMB (izin mendirikan bangunan) dan struktur PT PMA bagi pembeli properti • Pembebasan PPN untuk rumah baru di bawah IDR 2 miliar (~$125.000 USD) hingga Desember 2025 Kebijakan-kebijakan ini telah membantu menstabilkan segmen residensial kelas menengah, terutama di Greater Jakarta dan Surabaya, meskipun bank sentral mempertahankan suku bunga di angka 6,25%. Real Estate Cerdas, ESG, dan Proptech Indonesia juga sedang menjadi ajang uji coba bagi startup proptech dan proyek-proyek terintegrasi ESG. Di Jakarta, gedung komersial bersertifikasi hijau dan model co-living semakin menjadi arus utama. Sementara itu, di Nusantara, para pengembang menanamkan sistem air cerdas, jaringan tenaga surya, dan pelacakan kredit karbon ke dalam infrastruktur mereka sejak hari pertama. Startup seperti Urbanova dan TerraBumi memimpin gelombang ini, dengan total modal ventura lebih dari $70 juta yang berhasil dihimpun di antara keduanya dalam 12 bulan terakhir. Melihat ke Depan Seiring kelas menengah Indonesia terus berkembang dan urbanisasi semakin cepat, sektor real estate siap memainkan peran yang menentukan dalam membentuk trajektori pertumbuhan jangka panjang negeri ini. 3 Tren Teratas yang Perlu Dicermati pada 2025–2026: 1. Apresiasi modal di kawasan pedalaman Bali (misalnya, Tumbak Bayuh, Seseh) 2. Platform ko-investasi untuk pembeli asing (kepemilikan fraksional, aset ter-tokenisasi) 3. Hub perkotaan cerdas terdesentralisasi di luar Nusantara — termasuk di Sumatra dan Sulawesi ⸻ Renaisans real estate Indonesia bukan lagi sekadar visi masa depan — ia sedang terjadi sekarang. Bagi investor dengan pola pikir jangka panjang, nusantara ini menawarkan lebih dari sekadar senja tropis yang memukau. Ini adalah undangan terbuka untuk turut serta membentuk kota-kota masa depan.

